Tampilkan postingan dengan label bertahan di rimba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bertahan di rimba. Tampilkan semua postingan

{ 0 komentar }

Peka Tanda Alam

Peka Tanda Alam

Masih membicarakan tentang survival, di kesempatan kali ini saya mau berbagi kisah semasa kecil. Tinggal di pedesaan ternyata memberikan pengalaman yang unik yang sepertinya tidak di temukan bagi mereka yang tinggal di perkotaan. Kisah ini sebuah gambaran bagi saya sendiri mengenai survival.

Cerita ini bermula saat saya masih duduk di bangku SD, seperti yang telah di tulis dan dikisahkan pada tulisan sebelumnya, keseharian waktu di masa kecil saya di habiskan cukup banyak bermain di hutan rawa. Dan paling senang saat mulai kemarau, banyak aktifitas yang hanya asyik dilakukan saat musim hujan misalnya bermain ”hide and seek” atau petak umpet di sela-sela purun, bermain bola di lapangan yang hanya bisa ditemukan saat musim kemarau (lapangan dadakan), mencari sarang burung, Bekacal atau mengejar layang-layang putus.

Siang itu saya sehabis pulang sekolah berganti pakaian, makan dan pergi ke tempat kami biasa ngumpul. Biasanya ada beberapa teman saya yang bermain kelereng atau sekedar ngobrol-ngobrol. Dengan berjalan kaki kurang lebih 15 menit tibalah di tempat yang di maksud. Hari ini hanya ada satu dua teman yang ngumpul, dengan ngobrol sebentar akhirnya saya memutuskan pulang. Ditengah perjalanan tanpa sengaja ada sesuatu yang melayang di atas langit, di ombang-ambingkan oleh angin yang bertiup cukup kencang.

Tanpa sadar, kaki yang tadinya berjalan kini sudah berlari, berlari mengejar benda melayang yang tidak lain adalah layang-layang yang putus entah milik siapa. Tubuh serasa tak terkendali, semua halangan dilewati dengan mudahnya, parit-parit yang menganga tanpa ragu dapat dilewatid dengan mudah, ranting-ranting pohon yang rimbun tak dipedulikan, singkat kata keadaan saya seperti orang kesetanan.

Tak sadar sudah berapa lama dan berapa jauh saya masuk kedalam hutan. Karena memang saat itu yang namanya jam tangan belum akrab dalam kehidupan saya. Akhirnya saya berhenti, mencoba mengamati daerah sekitar dan sesekali menengok keatas mencoba mencari dimana layang-layang itu jatuh. Kaki sudah mulai terasa lelah, sudah coba tengok kiri dan tengok kanan, benar-benar tempat yang asing. Kini mendadak perasaan berubah, yang tadinya menggebu-gebu perlahan barganti dengan resah dan khawatir. Otak saya sudah mulai berfungsi, sadar betul bahwa tempat yang saya datangi ini hampir tidak pernah di datangi orang baik untuk mencari kayu bakar, mencari biawak, atau ular sawa.

Sebenarnya saya cukup yakin kalau saya baru memasuki hutan tidak lebih dari 3 kilometer. Namun karena sepanjang jakan hampir saya habiskan dengan menatap ke langit akhirnya saya mulai kebingungan mencari jalan pulang. Sebenarnya yang paling saya khawatirkan adalah kalau-kalau bertemu binatang buas, meski jarang namun tanda-tanda aktifitas babi hutan masih sering di temui. Masih dalam kebingungan saya tetap melangkah, mencoba-mengingat jalan saya datang, tetapi tetap tidak menemukannya. Beruntung saya termasuk anak yang hobi memanjat, didalam kebingungan saya menemukan sebatang pohon Galam yang cukup tinggi, dengan tanpa ragu pohon itu di panjat. Tepat ditengah, mata langsung mengamati sekeliling. Tapi tidak menemukan petunjuk karena tingginya pepohonan disekitar. Saya kumpulkan keberanian untuk memanjat lebih tinggi, hanya beberapa meter mendekati pucuknya. Akhirnya usaha saya memberikan sedikit caha terang, setelah mengamati sekeliling, ternyata di sebelah barat ada jalan raya yang melintas beberpa buah kendaraan bermotor.

Hilang sudah kecemasan yang tadi memuncak, pohon dituruni dengan perlahan dan dengan yakin kaki melangkah kearah barat menuju jalan raya yang tadi terlihat saat di atas pohon. Tepat ke arah matahari yang semakin condong.

Kejadian ini benar-benar menjadi pelajaran berharga buat saya, tak pernah membayangkan jika kejadian itu terjadi ditengah hutan belantara yang jaraknya bermil-mil dari jalan raya atau perkampungan. Entah apa yang akan saya lakukan tanpa bekal yang cukup menghadapi kondisi survival. Apa lagi saat kejadian itu jangankan menguasai teknik survival, membaca saja tidak pernah tentu nasib akan menjadi sebuah tanda tanya.

Di alam bebas kita bisa di celakai oleh apa saja, alam bisa lebih berbahaya dari hewan buas atau bahkan kita celaka karena kecerobohan kita sendiri. Lalu apa yang bisa kita ambil pelajaran dari cerita diatas ? ”Peka Tanda Alam adalah salah satunya. Kita harus peka terhadap tanda-tanda alam yang sekiranya bisa memberikan manfaat dan petunjuk bagi kita jika berada di hutan. Sebagai contoh :

  1. Tumbuhan lumut , dapat dipakai sebagai isyarat posisi barat dan timur. Lumut yang tumbuh di pepohonan umumnya lebih lebat yang di sisi barat dari pada lainnya.
  2. Tajuk pohon lebih lebat yang sisi bagian barat
  3. Jika ada pohon bekas tebangan, maka lingkaran tahunan bekas potongan kayu akan berpola lingkaran tidak sempurna atau elips, yang mana bagian yang mampat adalah arah timur dan barat sedangkan sisi yang melebar adalah utara dan selatan.
  4. Beberapa binatang memiliki tingkah laku unik saat menanggapi bahaya, atau memilih makanan yang aman dan tidak
  5. Beberapa tumbuhan seperti pandan tumbuh condong kearah timur, menuju arah matahari terbit. Contoh lain adalah bunga matahari.
  6. Sarang semut atau serangga lebih banyak di sisi pohon yang mengarah kesebelah barat
  7. Akan lebih baik jika mengetahui posisi benda langit misalnya rasi bintang untuk membantu navigasi. Dan banyak lagi yang bisa di jadikan alat bantu untuk menghadapi keadan atau kondisi survival.

Readmore »»

{ 1 komentar }

Teknik Survival

TEKNIK SURVIVAL

Kondisi survival umumnya terjadi akibat perencanaan yang kurang matang saat kita melakukan kegiatan alam di alam bebas. Kondisi yang tidak diharapkan tersebut tentunya tidak diharapkan baik bagi orang yang sudah mengetahui dan menguasai teknik survival apalagi bagi kita yang awam, yang minim pengalaman dan pengetahuan tentang teknik survival. Teknik survival merupakan senjata bagi mereka yang beraktifitas di alam bebas tidak hanya bagi para pecinta alam, tetap juga bagi mereka yang bergelut di alam bebas seperti petugas kehutanan, pramuka, atau peserta praktek, petualang dan lainnya sebagainya. Kondisi survival pada intinya adalah bertahan dalam menghadapi keadaan darurat yang disebabkan oleh alam, hewan buas, cuaca dan kondisi lainnya Misalnya bagaimana anda memasak saat tidak memiliki air bersih, memasak menggunakan peralatan seadanya, atau saat anda kehabisan persediaan makanan dan harus berburu atau membuat trap untuk memperoleh makanan.

Saya sendiri bukan ahlinya, namun sedikit pengalaman dan pengetahuan dari membaca juga mengikuti taraining saya coba untuk berbagi semoga saja para senior tidak menertawakan saya. Tapi jelas artikel-artikel yang saya tulis bukan untuk menggurui tapi sekedar sharing dan bertukar pengetahuan dan pengalaman.

Selama ini dalam melakukan beberapa aktifitas kecil di alam bebas saya sendiri tidak memiliki persenjataan (teknik survival) yang memadai. Saya tidak pernah membaca ataupun mengetahui dan mempraktekan teknik-teknik survival yang di tulis oleh Tito Sucipto yang beberapa hari lalu saya baca. Dengan adanya Teknik survival di hutan yang di tulis Tito Sucipto bisa menjadi senjata yang bermanfaat bagi saya dan buat anda yang sering maupun yang akan melakukan aktifitas di alam bebas.

Anda bisa dowload melalui link dan silahkan pelajari, kerana teknik survival merupakan salah satu hal yang sangat perlu di ketahui tidak hanya bagi yang senang beraktifitas dia alam terbuka tetapi bagi siapa saja. Sebab kondisi survival datang tidak terduga dan seringkali kondisi kita yang tidak siap berakibat fatal, semoga itu tidak menimpa kita amin...!

Dengan mempelajari dan berlatih teknik-teknik survival dan mengkombinasikannya dengan pengalaman tentu akan menjadi modal berharga anda jika suatu saat menghadapi kondisi survival. Tapi perlu di ingat, keadaan survival tidak di inginkan oleh siapapun, karena itu perencanaan dan kesiapan sebelum terjun kealam bebas adalah yang terpenting. Bagaimanapun mencegah lebih baik dari pada mengatasi.

Readmore »»

{ 3 komentar }

Belajar Memasang Jerat

Belajar Memasang Jerat

Inilah janji saya untuk menceritakan petualangan semasa kecil dei hutan rawa. Kalau anda menyimak sampai akhir, akan ada pelajaran bermanfaat, paling tidak sebagai pengetahuan anda tentang suatu cara sederhana untuk bertahan hidup di hutan, namun kali ini hutan yang dimaksud adalah hutan rawa.

Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah yang meiliki rawa yang luas, dan terkenal dengan rawa gambutnya. Selain pH tanahnya yang sangat asam, tumbuhan yang bisa bertahan disini tidak banyak. Pohon-pohon yang dominan adalah galam, karenanya sering pula di sebut hutan galam. Dasar hutan di tumbuhi rumput yang hampir seragam, umumnya jenis purun kudung, paku-pakuan dan dari genus Cyperus.

Di daerah yang jauh dari pusat keramaian biasanya banyak terdapat berbagai jenis burung, antara lain burung belibis, punai, kutilang, karuang, dan bubut. Adapula burung-burung yang saya kurang tau nama bahasa indonesianya misalnya burung baburak, tatapian, katikusan, tiung, dan ayaman. Beberapa burung tersebut dapat dimakan dan yang cukup digemari adalah punai, hayaman, katikusan, karuang, dan tatapaian.

Burung-burung seperti tatapaian, katikusan, baburak dan sejenisnya biasanya banyak di jumpai disekitar sawah, kecuali ayaman yang biasanya hanya ada di tempat yang benar-benar jauh dari pemukiman.

Kembali kecerita sewaktu saya kecil, burung-burung yang saya sebutkan tadi masih sangat sering dijumpai, dan saya bisa menikmati dagingnya hanya dengan bermodalkan beberapa meter benang pancing dan sebilah pisau atau parang. Mau tau caranya ?.

Hampir setiap haris saya sepulang sekolah pergi kehutan dibelakang rumah, macam-macam aktifitas yang di kerjakan. Hari ini mencari kayu bakar, besok memancing, lusa mencari sarang burung, besok lusa memasang jerat dan banyak lagi. Pada musim-musim tertentu (musim penghujan) burung ayaman, baburak, katikusan, ketapaian, banyak ditemukan. Meski terlihat jinak namun tidak akan mungkin untuk menangkap dengan tangan kosong. Sebenarnya untuk menangkapnya ada beberapa cara, antara lain dengan menembak dengan menggunakan ketapel, dengan pancing atau dengan menggunakan jebak. Namun ada cara yang lebih mudah dan sederhana, yaitu menggunakan jerat.

Menggunakan jerat bisa dipelajari siapa saja, tapi meski prakteknya mudah hasilnya pasti akan berbeda dengan yang benar-benar ahlinya ( penduduk asli). Sebab memasang jerat harus di daerah yang sering di lalui burung dan harus bisa membedakan mana jalan burung dan mana jalan tikus. Selain itu pengalaman akan banyak memberikan pengetahuan tambahan dalam menjerat.

Nah, bagaimana caranya membuat jerat ?. Pengen tau ? nih simak aja..

Alat dan bahan untuk memasang jerat

  1. Yang pertama dibutuhkan adalah benang pancing/nilon
  2. Potong nilon dengan ukuran kurang lebih 30-40 cm sehingga ketika di bentuk lingkaran akan berdiameter 10-15 cm.
  3. Buat simpul pada ujung nilon atau benang, sehingga nanti akan membentuk suatu lingkaran yang berfungsi sebagai jerat (lihat gambar)
  4. Buat sampai beberapa buah agar kemungkinan burung yang terjerat juga lebih tinggi.
  5. Pergilah ke daerah yang sering menjadi tempat mencari makan burung jenis pejalan yang mencari makanan di air berupa ikan-ikan kecil, kodok dan sebagainya
  6. Jika sudah tiba, potonglah ranting yang cukup kuat dan kokoh sebagai tiang tempat mengikat ujung nilon, bisa juga menggunakan batang tanaman terdekat misalnya karamunting untuk dijadikan tambatan nilon.
  7. Cari satu ranting lagi yang lebih kecil sebagai penyangga nilon disisi yang lain.
  8. Setelah selesai, cari tempat baru dan lakukan hal yang sama seperti langkah nomor 6-7 sampai semua jerat yang di siapkan terpasang semua atau sudah cukup banyak.
  9. Periksalah jerat 1 kali sehari atau setiap pagi dan sore, jika ada jerat yang lepas, betulkan ke posisi semula.
Posisi jerat yang sudah terpasang

Bagaimana, Mudah bukan ! jika anda kesulitan lihat gambar. Cara ini bisa anda gunakan di daerah anda jika memiliki kondisi lingkungan yang sama atau terdapat jenis burung sama atau memiliki karakter yang sama. Biasanya memiliki kaki cukup panjang, mencari makan di atas rumput yang tergenang atau di pinggir sawah.

Tapi ingat, jangan sampai melampaui batas sebab keberadaan burung-burung itu kini sudah mulai berkurang akibat banyaknya perburuan dengan menggunakan senapan angin. Sampai berjumpa lagi di tulisan saya selanjutnya....

Readmore »»

{ 0 komentar }

Keunikan Hutan Rawa

Keunikan Hutan Rawa

Saya yakin banyak kawan-kawan diluar sana yang juga hidup dan tinggal di sekitar hutan rawa seperti saya. Namun mungkin tidak semua menceritakannya seperti yang saya lakukan. Meksi tidak seseru jejak petualang, atau bocah petualang maupun mata angin. Pengalaman saya semasa kecil mungkin bisa berguna bagi anda dan dapat menjadi pelajaran ataupun sekedar pengetahuan.

Tapi saya gambarkan sedikit karakteristik hutan rawa tempat berpetualang semasa kecil. Daerah saya adalah daerah rawa yang di dominasi oleh kayu Galam (Malaleuca cajuputi). Di dasar hutan hampir sepanjang tahun tergenang air, dan hampir dimana-mana terdapat rumput ” purun kudung ” atau Eleocharis dulcis dan kelakai. Di tempat-tempat yang tidak tergenang bisanya banyak di tumbuhi karamunting, ataupun rumput dari genus Cyperus dan masih ada beberapa tumbuhan lain yang umumnya sudah beradaptasi dengan lingkungan yang asam.

Selain flora, ada juga faunanya misalnya berbagai jenis reptil seperti ular, kura-kura, biawak, berbagai jenis burung dan beberapa jenis ikan rawa misalnya seperti ikan betok atau papuyu, sepat dan ikan gabus atau haruan. Nah tentu saja aktifitas petualangan saya masih berhubungan dengan hewan maupun tumbuh-tumbuhan yang ada di sana.

Karena cukup banyak panjang jika saya tulis semuanya, maka saya akan tulis artikel ini secara seri atau bersambung. Cerita yang nanti akan tulis adalah perjalanan semasa kecil, cerita ini sekaligus untuk mengingatkan akan keunikan hutan rawa yang harus diperhatikan. Hutan rawa yang kian terancam sudah sepatutnya menjadi tanggung jawab kita untuk menjaganya.

Inilah cerita pertama saya, tapi mohon sebelumnya untuk tidak menertwakan saya karena kemampuan olah kata saya sangat pas-pasan.

Keseharian saya sewaktu kecil bisa di bilang sangat ”wong deso”, di bangku sekolah SD permainan yang saya lakukan hanya terbatas main kelereng, main gelang karet, main kapal-kapalan yang di buat dai pelepah rumbia ataupun pergi memancing bersama teman-teman. Menjelang musim kemarau, kami biasanya pergi mencari sumur-sumur kecil ataupun cekungan-cekungan yang dulu banyak ikannya, jika beruntung kami akan menemukan sumur-sumur dangkal yang banyak ikannya. Dengan berbagai teknik dan cara, setiap orang berusaha mencoba menangkap ikan sebanyak-banyaknya. Istilah di desa kami kegiatan seperti ini banyak sebutannya, ada yang menyebutnya ”begalau” adapula yang menyebutnya ”bekacal”. Pada intinya kegiatan ini adalah memanfaatkan air surut sewaktu menjelang kemarau baik di hutan maupun di sawah tadah hujan. Dengan surutnya air, ikan-ikan akan terkumpul dan terkonsentrasi di daerah yang lebih rendah misalnya sumur, atau cekungan yang dalam istilah kami disebut ”lubakan”.

Dalam kelompok kecil 3 sampai 4 orang kami menuju daerah yang akan di jelajahi, mencari lubakan atau sumur yang kira-kira ada ikannya. Jika ketemu maka dengan sebilah parang kami singkirkan-rumput-seperlunya dan kedua tangan siap beraksi mencari ikan di dalam air yang berlumpur. Tak jarang yang kami dapat bukannya ikan melainkan ular air atau ular tanah. Jika sudah begitu semuanya melompat keluar dari air karena kaget. Setelah beberapa menit kemudian bisanya ada diantara kawan-kawan yang berani ”bekacal” lagi dan semua kembali masuk ke sumur untuk menangkap ikan.

Dalam ”bekacal” kami biasanya tidak menggunakan alat bantu melainkan hanya menggunakan tangan kosong. Perolehan ikan pun tidak menentu, tergantung dari keahlian dan banyak ikan yang ada di sumur atau ”lubakan” tersebut. Kadang kami bisa membawa masing-masing lebih setengah ember dengan ukuran sedang, tapi pernah juga pulang hanya dapat seekor dua ekor. Gengsilah sebenarnya yang menjadi taruhan bagi yang sedikit mendapatkan ikan, namun meski begitu kami tetap sportif.

Ikan yang paling mudah ditangkap adalah jenis ikan sepat dan kapar, sedangkan yang sulit adalah ikan papuyu (betok) dan ikan haruan (ikan gabus). Ikan papuyu selain bisa bertahn dilumpur juga memliki duri sirip yang tajam sehingga susah di tangkap, sedangkan ikan haruan memiliki tubuh licin dan hentakan kuat saat di genggam.

Sayangnya kegiatan semacam itu sekarang sudah langka ditemui, padahal kegitan semacam itu memiliki nilai positif karena mengajarkan pemanfaatan sumber daya alam secara bijak dan bersahabat. Imbas perkembangan dunia modern telah merubah pola pikir masyarakat menjadi pola pikir instan, mereka lebih suka mencari ikan dengan menggunakan setrum (arus listrik) ataupun potas (racun ikan). Akibatnya populasi ikan di rawa-rawa kini jauh merosot dari beberapa tahun sebelumnya.

Simak cerita saya berikutnya bagaimana menangkap burung rawa dengan menggunakan jerat.

Readmore »»

{ 0 komentar }

Memasak di Alam

Memasak Dalam Keadaan Darurat

Kejadian tak terduga bisa menimpa siapa saja,tak peduli yang siap maupun yang tidak siap. Seringkali masalah-masalah sepele menjadi rumit di kala keadaan yang tidak bersahabat. Berikut pengalaman yang bisa saya bagi buat anda sebagai pengetahuan agar jika suatu saat berada pada kondisi yang tidak bersahabat tersebut.

Kegiatan alam seperti camping, tracking, dan pendakian banyak digemari sekarang ini, namun tidak sedikit dari mereka banyak yang tersesat, dan bahkan berakhir dengan maut. Kejadian seperti ini tentu tidak kita harapkan bahakan membayangkannya pun enggan. Bagi mereka yang hobi kegiatan-kegiatan yang menguji nyali tersebut tentunya sebelum terjun sudah siap fisik maupun mental, nah bagaimana buat anda yang sama sekali tidak pernah mendapatkan latihan survive, dan bahkan tidak pernah ikut kegiatan pramuka? Tips berikut mungkin akan berguna.

Salah satu hal penting dalam kegiatan alam atau di manapun adalah makan dan tentu saja untuk makan kita perlu memasak. Jadi api adalah elemen penting yang tidak boleh kita lupakan saat bertualang. Dengan menggunakan api kita dapat menghindarak diri dari binatang buas, menghangatkan tubuh saat malam, memasak makanan, memberi isyarat, dan sebagainya. Bagi petualang tentu sudah menyiapkan bekal-bekal ini dan salah satunya adalah beras untuk makan.

Memasak di alam atau dalam keadaan darurat tentu tidak seperti memasak dirumah, mengingat perjalanan yang umumnya sulit dan jauh tentu peralatan yang dibawa akan seminimal atau seefektif dan seefesien mungkin. Pada posting sebelumnya telah dibahas cara memasak menggunakan batang bambu, namun memasak dengan cara itu akan dapat di laksanakan jika tersedia air bersih. Sekarang bagaimana jika anda kekurangan air bersih? Sebagai contoh jika basecamp anda berada di dekat sungai yang ada akifitas tambang di bagian hulu. Tentu air sungai akan keruh dan tidak dapat digunakan untuk memasak. Sedangkan air bersih hanya cukup untuk minum ! Langkah berikut adalah salah satu solusinya.

  1. Siapkan beras dan panci/alat untuk merebus air
  2. Basahi beras dengan air secukupnya
  3. Masukan beras kedalam beberapa kantong plastik kurang lebih separuhnya, kemudian ikat kantong plastik agak longgar (sebelumnya kosongkan udara di dalamnya).
  4. Siapkan tempat untuk merebus (panci atau cerek)
  5. Isi paci atau cerek dengan menggunakan air sungai yang keruh
  6. Rebus beras dalam kantong plastik yang sudah dimasukan kedalam panci/cerek
  7. Jika sudah cukup lama air di dalam panci mendidih, angkat kantong plstik berisi beras dan periksa apakah beras didalam kantong plastik sudah matang.

Satu hal yang perlu di perhatikan adalah, cara memasak ini untuk menghindari beras yang kita masak terkontaminasi/kontak langsung dengan air sungai yang keruh atau berlumpur untuk menghemat persediaan air bersih. Semoga bermanfaat.

Readmore »»